SENI DAN REPRESENTASI Philosophy of Art - Noel (No. Absen 39)

Terjemah    :

Teori ilusi juga tidak masuk akal dari praktik kita melihat gambar. Saat melihat gambar, kita sering menghargai ketelitian gambar. Tapi jika kita mengira gambar itu adalah referensi, tidak masuk akal untuk menghargai verisimilitude nya. Omong kosong untuk menghargai betapa mobil saya terlihat seperti itu sendiri. Tapi jika teori ilusi itu benar, itulah yang akan saya lakukan jika saya mengatakan saya menghargai verisimilitude gambar mobil saya.

Selain itu, untuk melihat gambar dengan benar, kita harus belajar untuk "melihat" melalui distorsi permukaan mereka. Kita harus melihat melalui kilaunya pernis, atau, jika itu adalah film, kita harus melihat melalui goresan di emulsi. Tetapi untuk melihat melalui fitur-fitur ini, kita harus tahu bahwa kita melihat gambar dan bukan referensi mereka "di alam." Namun, jika kita tahu ini adalah gambar, kemudian, mengingat pemahaman standar kita tentang apa artinya mengetahui sesuatu, kami tidak percaya bahwa itu adalah referensi milik mereka. Jadi, sekali lagi, tidak ada penipuan—tidak ada kepercayaan ilusi—terlibat. Jadi teori ilusi representasi bergambar salah untuk kasus standar, yang, tentu saja, adalah kasus yang kita harapkan dari teori representasi bergambar untuk menjelaskan. Oleh karena itu, kita membutuhkan yang lain pendekatan untuk masalah representasi bergambar. (Terjemah dari Google)


Review     :

Ya benar, ketika ke museum atau melihat karya-karya seorang seniman pasti saya atau beberapa orang terpaku dengan seberapa detail ketelitian sang seniman dalam membuat seninya. Kemudian karena kagum akhirnya menjadikan karya seniman tersebut sebagai referensi karya mendatang. Selain melalui museum, karya seni banyak macamnya. Sejujurnya, saya dalam 23 tahun hidup baru sekali berkesempatan untuk menyaksikan langsung ke museum karya-karya seniman. Seingat saya, saya mengunjungi museum saat saya menginjak Sekolah Dasar (SD). Dan sekarang banyakk sekali inovasi-inovasi baru yang diluncurkan dari beberapa seniman yang menggunakan kecanggihan era digital dalam memperkenalkan karya-karya mereka. Contohnya, mengunggah di internet. Contoh pertama, adalah Instagram. Banyak sekali seniman yang saya temui di media sosial tersebut, melihat karya-karya mereka yang mereka unggah di halaman Instagram mereka. Kemudian, contoh kedua. Seperti yang disebutkan diatas kita bisa melihat seni dari film, bagaimana kualitas gambar yang dihasilkan, kemudian gestur bahkan mimik wajah aktris/aktor yang keren saat berakting, properti yang digunakan dalam film, latar belakang/lagu/filter yang mendukung emosi yang terjadi didalam film, kemudian contoh yang terakhir animasi yang memanjakan mata disetiap detail film. Oke, yang terakhir dalam me-review membahas tentang “Kita melihat gambar bukan dari referensi mereka “di alam”  dan “tidak ada penipuan—tidak ada kepercayaan ilusi—terlibat.Dari dua kata yang saya kutip tersebut saya memiliki beberapa pengalaman terkait “melihat gambar dari referensi”. Banyak orang yang mungkin belum paham jika beberapa seniman menggunakan referensi, maka seniman tersebut harus menghasilkan gambar/karya yang plek ketiplek dengan referensi yang seniman tersebut pakai. Padahal jika seorang seniman menggunakan referensi mereka hanya mencontoh atau menggambar ulang dengan gaya mereka sendiri. Akan menjadi masalah hak cipta jika karya referensi dan karya pribadi sangat amat terlihat menjiplak. Makanya setiap seniman kira-kira mempunyai tipe gambarnya sendiri (walaupun saya belum menemukan haha :’)) itulah yang membedakan antara seniman yang satu dengan yang lainnya. Dan itu semua bukan termasuk penipuan, itu adalah karakteristik atau keunikan setiap seniman. Jadi, jangan merasa tertipu lagi dengan apa yang seniman sampaikan melalui gambar yang terinspirasi dari beberapa referensi.

 

* Sejujurnya agak sulit me-review sebuah tulisan terjemahan Inggris-Indonesia menggunakan terjemah Google haha, karena beberapa kalimat atau bahkan dalam satu paragraf hasil terjemah terkesan ambigu saat dibaca sehingga lumayan membingungkan saya untuk bisa benar-benar memahami (Ya tapi bagaimana lagi, pengetahuan bahasa inggris saya kurang luas haha.) maaf ya pak saya telat mengerjakan, seminggu ini saya sakit jadi baru bisa berpikir jernih sekarang...

Comments

Popular posts from this blog

MENGGALI TRAUMA DENGAN SENI MELALUI NFT

"Menurut kalian, mengapa kita perlu hidup dan hadir di kuliah DKV Unindra?"

Terjemahan Inggris – Indonesia "Aesthetics: A Reader in Philosophy of the Arts Edited by David Goldblatt, Lee B. Brown, Stephanie Patridge " Tugas 1